Rabu, 25 April 2012

Farel Masih Mencari Ayahnya

* Doakan Kesembuhan Ibu Agnes

MANADO, TRIBUN - Sedih dan tak percaya. Itulah yang dialami Febri (14) anak pertama pasangan Antonius Silitona (39) dan Agnes Lilonaung (33), korban kecelakaan maut di depan MGP, Jalan A.A Maramis, Kelurahan Kairagi II Manado, Jumat (30/3). Anak itu harus menerima kenyataan pahit. Ayahnya meninggal dunia, sedangkan ibunya Agnes  dalam keadaan koma. Di saat yang sama ia tengah  bersiap menghadapi ujian akhir.

Hari Jumat siang (30/3)  rumah duka Keluarga Silitona - Lilonaung ramai dikunjungi pelayat.  Sejak pagi, rumah yang terletak di Kelurahan Kairagi II Lingkungan II tak henti didatangi. Mulai dari keluarga, tetangga hingga kerabat semuanya datang untuk memberi penghiburan.

Di salah satu kursi Febri duduk sendiri. Keceriaan yang biasanya tampak di wajah bocahnya kini hilang, berganti kesunyian. Sesekali matanya memandangi Farel (2), adiknya yang saat itu tertidur di ayunan. Mungkin tangis Farel sesekali adalah satu - satunya geliat dalam dirinya saat itu.

Dijumpai Tribun Manado, Febri tampak sedih. Menurut Febri, sehari sebelumnya orang tuanya baik-baik saja. Bahkan pada malam sebelum kejadian dia masih sempat bercanda dengan mereka. Bangun tidur pukul enam pagi kemarin, Febri dikejutkan dengan kabar kematian  ayahnya. Kemudian  menyusul kabar bahwa ibunya sekarat. "Saya  sedih sekali," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menceritakan kesan terhadap ayahnya. "Papa orang bae, deng salalu balucu (papa orang baik dan suka melucu)," tuturnya. Kehilangan sang ayah membuatnya sulit berkonsentrasi apalagi  dalam waktu dekat akan  menghadapi ujian nasional. "Ya pasti sulit," ungkap siswa kelas 3 SMP N 13 Manado ini. Meski sedih karena nyawa papanya tidak terselamatkan, ia masih berharap akan keselamatan ibunya. Dia panjatkan doa kepada Tuhan agar ibunya masih bisa hidup bersama mereka.
Ibu Line  salah seorang saudara kandung Agnes mengatakan, kecelakaan maut itu sangat mengguncang keluarganya. "Kami semua terguncang dengan kejadian ini," katanya. Yang paling memilukan hati melihat kondisi Farel. Anak berumur dua tahun itu masih mencari-cari ayahnya. "Sejak tadi dia terus menangis mencari ayahnya. Dia sangat dekat dengan ayahnya," tutur Line. 

Sebelum kejadian Line dan anggota keluarga lainnya tidak memiliki firasat apapun. Diceritakannya  sejak minggu lalu Ibu Agnes membuka sebuah kantin yang menjual tinutuan, midal DAN pisang goreng.  Tempatnya di perumahan Maumbi Permai.

Anton yang bekerja di bengkel di Paal Dua setia menghantar istrinya setiap hari berbelanja di pasar Bersehati untuk kebutuhan kantin. Tiga hari hari terakhir kantin sempat tutup karena Farel sakit. Setelah Farel sembuh Agnes ingin kembali berjualan.  Bersama suaminya Jumat (30/3) pukul 04.00 Wita mereka menuju pasar dengan sepeda motor. Saat itulah terjadi tabrakan. "Kami sayang pada bapak Antonius, tapi ternyata Tuhan ternyata lebih sayang," katanya terbata - bata.

Ibu Rita seorang majelis di kolom tempat keluarga Antonius  berdomisili juga merasa terkejut. Ia menyebut keluarga  ini sangat aktif dalam melayani. Bahkan pada malam sebelum kejadian di rumah keluarga itu digelar ibadah kolom 20. "Saat itu keduanya tampak biasa saja," ungkap Rita.

Kecelakaan di Jalan A.A Maramis, depan MGP  Convention Hall, Kairagi II, Kecamatan Mapanget, Jumat (30/3) pukul 04.00 Wita, melibatkan dua sepeda motor jenis Honda Supra dan Suzuki Satria. Dua pengendara yakni Antonius Silitona (40) dan Moody Gaghana (22) tewas di tempat. Korban lainnya Agnes Lilonaung (33) hingga kemarin sore masih koma di RS Kandou Manado, sedangkan Lexi Lumingkewas (17) menderita patah kaki.

Iping, saksi mata menuturkan kejadian itu bermula saat pasangan Antonius  dan Agnes keluar dari lorong perintis dengan Honda bernopol 9401 MA. Hendak menuju ke arah Manado, pasangan suami istri ini bermaksud memintas jalan. Jarak antara lorong perintis dan belokan ke arah Manado yang hanya terpaut 10 meter membuat keduanya berbelok kanan meski menempuh arah yang berlawanan.
Tiba-tiba dari arah Manado datang motor Suzuki bernopol 9424 RG yang dikendarai  Moudy Gahgana dan Lexi Lumingkewas,  keduanya warga Paniki Bawah, Kecamatan Mapanget Manado.

Tabrakan maut pun terjadi tepat di tengah antara lorong perintis dan belokan menuju arah Kota Manado. "Keempatnya langsung terpental. Kepala pak Anton terbentur aspal. Pengendara satunya juga langsung tewas. Ibu Agnes terlihat pingsan, sedang yang satunya kelihatan pincang," kata Iping.

Suwadi, penjual bakso yang tinggal di depan lorong mengaku mendengar suara keras  sesaat setelah tabrakan. Ia pun mendapati keempatnya tergeletak di jalanan. "Posisi pak Anton dan Ibu Agnes di tengah jalan, sedang dua pengendara lainnya berada di sisi kiri," ujarnya. Tak lama berselang petugas dari Polsek Mapanget tiba di lokasi kejadian. Demikian pula Unit Lakalantas Polresta Manado. (art)

Tribun Manado 31 Maret 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...