* Nazar Yakin Bisa Gantung Anas di Monas
JAKARTA, TRIBUN - Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Bualemo, Provinsi Gorontalo, Ismiyati Saidi mengakui adanya aliran dana untuk pemenangan Anas Urbaningrum menjadi ketua Umum Partai Demokrat pada Mei 2010. Dia telah menerima dana sebesar 7 ribu dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 63,8 juta dari Eva selaku staf Nazaruddin.
Rinciannya, lanjut Ismi, dia mendapat 2 ribu dolar pada putaran pertama di Hotel Aston. Kemudian, ia menerima 5 ribu dollar pada pemilihan Ketua Umum PD pada putaran kedua.
Ismiyati mengungkapkan hal itu saat bersaksi untuk terdakwa Nazaruddin di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (12/3/2012).
Menurut Ismiyati semua kader PD yang saat itu berada di Hotel Sultan menerima uang untuk memilih Anas. "Karena itu semua yang di Hotel Sultan harus pilih Anas," ungkapnya.
Dalam kesaksiannya, Ismi membenarkan adanya komitmen lisan agar kader Demokat memilih Anas Urbaningrum. "Saya dijemput di Bandara Soekarno-Hatta lalu diantar ke Sultan. Kami awalnya diberi dana Rp 15 juta. Kami kumpul di sana bersama panitia kemenangan Pak Anas. Ada pengarahan dari Pak Yosep, dia korda Gorontalo," kata Ismiyati.
Namun, Ismiyati tak tahu-menahu adanya kaitan asal muasal uang pemenangan Anas dari kasus korupsi pembangunan wisma atlet, Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan. "Tidak mengetahui dana itu dari mana," ujar Ismiyati. "Apakah saudara mengetahui proyek wisma atlet?," tanya jaksa. "Tidak mengetahui proyek wisma atlet," jawab Ismiyati.
Di sela-sela kegiatan melantik kader Partai Demokrat di Cibubur, Jakarta Timur, Senin (12/3/), Anas Urbaningrum mengatakan pengakuan Ismyati tidak betul. "Kalau menyangkut kongres, itu sudah selesai 100 persen, tidak ada hal-hal yang aneh. Kalau ada yang mengganggap ada yang aneh, itu yang pikirannya aneh dan digerakkan," kata Anas.
Anas menanggapi pengakuan Ismiyati tersebut secara normatif. "Kalau yang menyangkut proses hukum, silakan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, saya tak mau menanggapi satu per satu nanti kayak berbalas pantun," tuturnya.
Yakin Gantung Anas
Mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin merasa yakin dapat menggantung Anas di tugu Monas Jakarta. Nazaruddin punya data untuk membuktikan Anas terlibat dalam dugaan kasus korupsi pembangunan sarana olahraga di bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
"Pasti Anas akan digantung di Monas karena dia memang menerima. Dan saya jamin di atas 100 persen. Dia yang 100 persen mengatur proyek Hambalang. Itu saya garansi 100 persen," ujar Nazaruddin kepada wartawan usai menjalani sidang selaku terdakwa dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan wisma atlet SEA Games di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (12/3).
Nazaruddin geram mendengar pernyataan Anas selaku Ketua Umum Partai Demokrat yang tidak menerima sepeser pun uang dari proyek Hambalang, dan mengatakan siap digantung di Monumen Nasional (Monas) jika terbukti menerima fee atau komisi, pekan lalu. Menyikapi hal itu, Nazaruddin kembali menegaskan menantang Anas Urbaningrum.
Di bagian lain, Nazar mengancam membongkar seluruh persoalan yang ada di internal partai jika dia diserang secara kelembgaan, partai. Selama ini dia beranggapan hanya fokus mengungkap peran individu-individu, yaitu Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, bukan menyerang Partai Demokrat.
"Tapi kalau benar ada keputusan dari Majelis Tinggi dan Dewan Pembina untuk serang saya secara partai, akan saya buka nanti semuanya," tegas Nazar.
Anas membantah terlibat dalam kasus dugaan korupsi pembangunan sarana olahraga di Hambalang. Dan jika terbukti korup, ia menyatakan siap digantung di tugu Monas apabila dana korupsi di kasus proyek kompleks olahraga Hambalang, Bogor mengucur kepadanya. Anas menegaskan tudingan dia korupsi di Hambalang hanya orang asal omong, dan hasil karangan.
Anas pun menilai rencana KPK memanggil dia dalam penyelidikan kasus Hambalang tidak perlu. Anas tidak menerima keuntungan dari proyek pembangunan stadion olahraga Hambalang yang ditangani PT Adhi Karya.
Anas pun meminta KPK untuk tidak perlu repot mengusut kasus Hambalang.
"(KPK) tidak perlu repot-repot mengurusi Hambalang. Kasus itu hanya berasal dari ocehan-ocehan (Nazaruddin) yang tidak jelas, dan karangan-karangan tidak jelas," ujar Anas kepada wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Jumat (9/3). (tribunnews/fer/nic)
Tribun Manado 13 Maret 2012 hal 1