* Tawaran Kerja di Luar Sulut Dengan Gaji Tinggi
Sebagai perempuan Enda selalu prihatin dan sedih membaca kabar gadis-gadis Sulawesi Utara menjadi korban perdagangan orang (trafficking). Pasalnya, ia pernah berjumpa dengan sahabatnya yang menjadi korban di Batam.
"WAKTU itu saya bekerja untuk agen perjalanan dan hendak ke Singapura. Sebelum sampai di Singapura saya dua hari di Batam. Di situ saya bertemu dengan teman yang bekerja di sana. Ternyata hidupnya menderita," ujar Enda yang bernama lengkap Sendra Rorimpandey kepada Tribun Manado, Rabu (21/3/2012).
Dari cerita temannya itu ia mengetahui derita para pekerja yang terjebak trafficking. Umumnya mereka adalah kaum perempuan yang awalnya tergiur iming-iming pendapatan tinggi bekerja di luar Sulut atau di mancanegara. Namun setiba di tempat yang dijanjikan, pendapatan tinggi tersebut hanya mimpi.
"Teman saya dan perempuan lainnya itu terjebak. Mereka tidak bisa berbuat apa- apa dan mau tidak mau membiarkan diri dijual, entah ke Batam atau Papua," ujar Enda yang hobi menyanyi.
Kata perempuan kelahiran Manado, 5 September 1988 ini, harga kebutuhan di Batam cukup tinggi. Belum lagi sebagian dari mereka harus menanggung beban hidup keluarga di kampung halaman.
Merasa kasihan mendengar kisah pilu temannya itu, putri pasangan Joppy Rorimpandey dan Syane Waani ini pun iba. Sebelum berpisah dengan temannya itu ia sempat menitipkan sejumlah uang kepadanya.
Belajar dari kisah temannya itu, lulusan SMA Negeri 1 Kotamobagu ini tak mudah tergiur pendapatan tinggi bekerja di luar daerah. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia rajin mencari informasi pekerjaan sembari mencari dana untuk biaya perkuliahan.
Saat bertemu Tribun Manado, Enda sedang bekerja sebagai tenaga pemasaran produk rokok. Meski hanya kerja paruh waktu selama tiga bulan, ia patut bersyukur lantaran pekerjaan itu tidak membuatnya menderita.
"Memang pekerjaan ini tidak selamanya saya lakoni. Tapi untuk sementara saya pikir pekerjaan ini cukup. Saya ingin bekerja sebagai wanita karier," ujar dia.
Berhadapan dengan tawaran kerja dirinya pun harus waspada. Kata dia, sikap itu harus tertanam dalam diri setiap orang agar tidak terjebak. "Kepribadian yang kuat akan sangat menunjang seseorang tidak tergoda. Pokoknya, harus kuat iman," kata sulung dari dua bersaudara ini.
Enda juga berharap pemerintah terlibat dalam memupus trafficking dengan membuka lapangan kerja seluas mungkin di daerah. Selama ini ia melihat banyak korban berasal dari daerah pedesaan. Tak hanya itu, pemerintah daerah juga harus meringankan biaya pendidikan.
"Ada beberapa teman saya terpaksa putus sekolah karena keluarga tidak mampu membiayai. Keluarga yang tidak mampu lebih memilih anaknya menikah saja atau langsung bekerja. Saat itulah godaan kerja dengan gaji tinggi datang dan mereka pun menjadi korban," demikian Enda. (maximus geneva)
Tribun Manado 22 Maret 2012 hal 1