Senin, 23 April 2012

Tak Nyenyak di Bibir Tebing

*  Longsor Mengancam Rumah Warga
*  Pemko Manado Belum Punya Dana Relokasi
*  Bongkar Paksa Rumah Warga Yang Bandel

MANADO, TRIBUN - Hujan selalu membawa mimpi buruk bagi puluhan warga Kelurahan Dendengan Luar dan Paal 2, Kecamatan Tikala, Manado. Bermukim di bibir tebing curam,  mereka tidur tak pernah nyenyak lantaran maut mengintai setiap saat.

Seperti diamati Tribun Manado, Kamis (15/3/2012), kenyataan pahit itu melanda sejumlah warga Lingkungan 1, Kelurahan Dendengan Luar, Kecamatan Tikala, Manado. Rumah mereka berada persis di pinggir tebing. Bahkan ada rumah yang halamannya hampir ludes tergerus longsoran.

Rumah keluarga Dali Wungku, misalnya. Batas rumah Wungku hanya sekitar dua meter dari dinding tebing. Dinding tebing dengan kemiringan 30 derajat itu cuma ditumbuhi dua pohon rambutan. Sisanya ilalang. Ada lima rumah tepat berada di pinggir tebing tersebut.
Di sisi kiri rumah Wungku terdapat rumah Meiske Lesawengan (43). Meiske mengakui  dinding terbing dengan kemiringan sekitar 45 derajat di belakang rumahnya pernah longsor tahun 2010. "Longsoran tanah menghancurkan atap seng rumah paman yang kami tumpangi ini," kata Meiske.

Meiske menambahkan,  di samping rumah sekitar satu meter ada jurang dan terus tergerus longsoran. Wanita ini mengaku saat cemas bila hujan tiba. Pada malam hari ibunda Andri Pontoh (17) ini tidak bisa tidur. Dia dan keluarganya mau pindah dari tempat itu  tapi tidak mempunyai tanah dan rumah. Ia juga belum pernah mendengar rencana relokasi dari pemerintah Kota Manado.

Perasaan cemas pun dirasakan Erni Tigawu (34).  Perasaan takut menghantui  Erni dan keluarganya ketika hujan turun hampir saban hari seperti saat ini. Ketakutan makin bertambah manakala hujan disertai angin kencang. "Rumah seakan bergoyang," ujar Erni.

Kondisi tanah di bibir tebing yang labil menyebabkan lantai rumah pecah-pecah pada musim hujan. "Bahkan beton pun pecah," kata Erni sambil menunjukkan batas rumahnya yang tinggal satu meter dari bibir tebing. Tampak tanah berpasir  meluncur  ke arah jurang. Di belakang rumah Erni terdapat bekas longsoran berbentuk setengah lingkaran dengan diameter sekitar tujuh meter. "Longsoran ini pernah mengenai keluarga Potale yang ada di bawah. Untung tidak ada korban jiwa," katanya.

Mengenai rencana relokasi, Erni pernah mendengar hal itu pada tahun 2008. Menurut Erni yang menumpang di rumah mertua, keluarganya siap pindah ke tempat baru asal pemerintah menyediakan tanah bagi mereka.  Namun, rencana pindah menyimpan beban psikologis bagi  ibu Malvino Moningka (14) dan Yoel Moningka (6) ini. "Saya susah melepaskan keterikatan dengan tetangga. Apalagi suami saya Roby Moningkamenjadi sekretaris kaum bapa GMIM Jemaat," kata Erni.

Mimpi buruk warga yang bermukim di pinggir terbing juga ditemukan Tribun Manado di  Lingkungan 10, Kelurahan Paal 2, Kecamatan Tikala. Di sana ada puluhan rumah di lereng tebing. Rata-rata bagian tebing yang bersebelahan rumah sudah dicor beton. Akan tetapi, yang menopang tanah hanya pohon bambu di bagian kiri dan satu pohon mangga sekitar 20 meter menuju jalan naik. Kemiringan sekitar 45 derajat.

Warga setempat, Hani Tumulo (44) mengatakan rumah yang mereka tinggal milik sendiri. Hani tidak menampik  kecemasanya akan terjadi longsoran setiap kali hujan. "Saya takut jika ada angin ribut atau hujan. Apalagi rumah saya ini berbatasan langsung dengan dinding tebing,"kata Hani. Rumah Hani tampak retak. "Saya mau pindah asalkan ada rumah lain," tuturnya.

Satu rumah di lingkungan ini sudah terkena longsoran tiga minggu lalu. Dinding belakang  rumah keluarga Abuba Mahmud itu  hancur dan material bangunan hampir mengenai anggota keluarga yang sedang lelap.  Mariam Mahmud (36) mengaku sangat takut. Rumah mereka sudah berkali-kali diterpa longsoran. Ia sangat khawatir jika longsoran mengenai dinding kamar dan menghancurkan seluruh rumah.

Soal kepindahan, ia mengaku akan kembali ke daerah asal Gorontalo. "Kami mau ke Gorontalo. Mudah-mudahan suami yang bekerja sebagai sopir bisa mendapat pekerjaan di sana," kata wanita berkulit sawo matang ini.  Mariam menambahkan, ia tidak pernah mendengar rencana relokasi dari Pemko Manado.

Selain di Kelurahan Dendengan Luar dan Paal 2, Kecamatan Tikala, warga yang membangun rumah di bibir tebing juga terdapat di beberapa kawasan Kota Manado lainnya. Mereka tetap bertahan meskipun setiap saat terancam bencana longsoran.

Sedang Mendata
Ditemui Tribun Manado, Kamis (15/3), Wali Kota Manado Vicky Lumentut mengatakan pemerintah sedang mendata rumah kumuh dan tidak aman dihuni seperti di pinggir terbing. "Saat ini sedang kami data untuk kemudian dilanjutkan dengan kajian penataannya," ujar Lumentut.

Untuk tahun anggaran 2012 ini, kata dia, belum ada dana untuk relokasi bagi warga yang tinggal di lereng bukit atau di bibir tebing. Namun demikian, pemerintah  menyiapkan dana Rp 1 miliar untuk penanggulangan jika terjadi bencana. Anggaran tersebut masuk pos dana tak terduga dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Manado. Penggunaan dana tersebut harus mendapat persetujuan dari DPRD Manado. Wali Kota kembali mengimbau warga untuk selalu waspada jika terjadi hujan lebat yang cukup lama, sebab hal tersebut bisa menyebabkan banjir dan tanah longsor.

Sebelumnya, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Manado John Theo Supit mengatakan pihaknya menurunkan tiga tim untuk mendata daerah rawan longsor. "Setiap tim akan mendata di tiga kecamatan," ujarnya, Senin (12/3/2012). 

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Kota Manado Amos Kenda menuturkan program penataan kota tahun 2012 terarah pada pembangunan yang ramah lingkungan. Selain itu, izin pembangunan rumah, kawasan perumahan dan gedung harus diawali dengan analisis dampak lingkungan (amdal).

Tidak ada lagi pembangunan rumah di lokasi rawan bencana seperti di dekat tebing atau pinggir pantai. "Kita tidak akan keluarkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) bagi rumah atau bangunan apapun yang akan di bangun pada daerah yang tercatat sebagai daerah rawan bencana," ujarnya, Kamis (15/3).

Data daerah rawan bencana, jelas dia, mengacu pada data Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Titik-titik yang rawan bencana tidak boleh didirikan rumah. "Memang ada yang bandel. Mereka terlanjur membangun dan ada yang memang yang memaksakan diri karena kebutuhan membangun rumah di daerah  berbahaya. Namun jika kami melihat sudah sangat berbahaya maka kami siap bongkar paksa bekerjasama dengan aparat setempat," tandasnya.

Diakuinya, Dinas Tata Kota Manado tidak memiliki data permukiman tak layak huni di area rawan bencana. "Kita instansi teknis selalu berkoordinasi dengan instansi lainnya. Seperti pembangunan rambu-rambu peringatan di lokasi itu tugasnya Dinas PU," demikian Kenda. (dma/erv/dit)


Tolong Penuhi Janji

KOTA Manado, Sulawesi Utara dikelilingi wilayah perbukitan dan bantaran sungai yang rawan bencana. Apalagi cuaca yang terjadi di kota Manado cukup ekstrem dan rentan mendatangkan bencana seperti longsor dan banjir.

Pemerintah kota telah melakukan upaya untuk mencegah adanya korban dengan cara merelokasi warga yang tinggal di daerah rawan ke tempat yang lebih aman. Tetapi tempat yang disediakan pemerintah masih jauh dari yang diharapkan.

Pantauan Tribun Manado, Kamis (15/3), perumahan yang disediakan pemerintah di Perumahan Atinggola rawan bencana, lingkungan 4, Kelurahan Pandu Kecamatan Mapanget belum memadai dengan ukuran ruang tamu yang kecil, hanya terdiri dari satu kamar dan kamar mandi yang sempit.

Dapur dibuat sendiri oleh warga. Kekurangan yang lain adalah jalannya yang rusak, masih berupa tanah liat, tidak diaspal, jadi kalau musim hujan mengakibatkan becek. Saluran airnya juga tidak ada sehingga air bisa masuk langsung ke rumah warga. Mereka masih menggunakan sumur yang dibuat sendiri untuk memenuhi kebutuhan setiap hari termasuk air minum.

Hal ini dibenarkan Sofia Adrian, warga asal Kelurahan Sindulang 1. Ia mengatakan, keadaan yang dialami sekarang tidak nyaman dan jauh dari harapan. "Sebelum kami dipindahkan ke tempat ini, pemerintah sudah menjanjikan perumahan yang akan kami tempati adalah yang sudah siap pakai, ternyata semuanya hanya janji saja, karena ukuran rumah yang disediakan hanya terdiri dari ruang tamu ukuran kecil dan hanya satu kamar. Sedangkan dapur dibangun dengan biaya sendiri, " ujar wanita asal Kelurahan Sindulang satu.

Sofia mengungkapkan, sampai saat ini pemerintah belum mengeluarkan sertifikat, sehingga menimbulkan keraguan bagi warga korban bencana untuk membangun rumah mereka menjadi lebih layak lagi untuk ditempati.

"Kami tidak dapat berbuat apa-apa karena ini juga merupakan kebijakan pemerintah untuk merelokasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana, tetapi kalau fasilitas yang disediakan saja tidak memadai, lebih baik kami balik lagi ke rumah kami sebelumnya, tapi apa boleh buat rumah kami sudah dibongkar oleh pemerintah, " tambah Sofia.

Rita (55), mengungkapkan, pengalamannya tinggal di daerah rawan bencana memang sangat meresahkan. Apalagi pada saat musim hujan dan angin kencang. "Kami bersyukur karena pemerintah telah menyediakan tempat untuk kami gunakan, tetapi kami juga membutuhkan tempat yang layak. Kami hanya berharap pemerintah peduli dengan keadaan kami saat ini, karena untuk ke Rumah Sakit saja sulit, jauh dari pusat kota, jalan masih rusak, dan terutama belum ada penyediaan air bersih, " tegas Rita

Weli Lintang, warga asal Taas yang juga merupakan korban longsor, mengatakan pemerintah juga harus menjamin keamanan yaitu dengan mambuat pos keamanan. Tempat ibadah juga perlu dibangun, karena selama ini untuk pergi ibadah saja, merka harus menempuh jarak yang cukup jauh dan itu membutuhkan biaya transportasi.

"Kalau keadaannya seperti ini, lebih baik saya memilih untuk menetap di tempat tinggal saya yang lama, karena setelah dipindahkan ke sini, saya dan keluarga untuk makan saja susah, karena pendapatan kurang," ungkap Katrina "Pemerintah tolong perhatikan keadaan kami di sini dan tolong penuhi janji yang telah disepakati," kata Elvin.

Siska (51), mengaku bersyukur mendapatkan tempat tinggal yang disediakan pemerintah, walaupun fasilitasnya  kurang. Peristiwa longsor tahun 2006, yang telah membuat ia dan keluarga kehilangan rumah dan harta membuatnya sangat trauma, ketika mengingat peristiwa tersebut.

"Karena saya pernah menjadi korban bencana, jadi saya bersedia mengikuti kebijakan pemerintah untuk memindahkan kami ke tempat ini, walaupun fasilitas dan infrastruktur yang disiapkan masih jauh dari harapan. Kami hanya bisa pasrah dan belajar untuk bersyukur saja, " tambah istri dari Markus Takahegesang. (jhp)


Veronica Kumuru
Pengamat Tata Kota

Pilih Lokasi Landai

SUDAH lama warga Kota Manado memilih tinggal di daerah tebing. Kalau dulu tinggal di daerah tebing tidak berbahaya karena masih sedikit orang yang  membangun rumah di daerah seperti itu. Tapi sekarang, karena jumlah penduduk Kota Manado semakin bertambah, maka semakin banyak pula orang yang membangun rumah di daerah tebing. Kepadatan rumah menyebabkan kawasan tebing sangat berbahaya bagi keselamatan penghuninya.

Selain pertambahan penduduk, alam Kota Manado memang beda dengan daerah lain seperti di Jakarta. Manado memiliki banyak daerah perbukitan, sedangkan lahan yang landai terbatas. Bisa lihat hampir semua daerah di Kota Manado ini topografinya berbukit-bukit. Inilah yang membuat mereka memilih membangun rumah di daerah tebing meski ancaman bahaya terus mengintai.

Kawasan di Kota Manado yang ada bangunan di tebing bisa kita lihat di daerah Karombasan, Sindulang dan Paal 2. Sudah tepat jika pemerintah kota Manado tidak lagi memberikan izin kepada masyarakat membangun rumah di pinggir tebing.  Untuk program relokasi, pemerintah harus mencari lokasi yang landai untuk dijadikan pemukiman baru. Perumahan yang dibangun pun harus layak huni. (aro)

Tribun Manado 16 Maret 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...