Kamis, 26 April 2012

Chita Tak Pusingkan Perbedaan

* Makna Sebuah Kelompok Koor


Minggu palma  yang dirayakan di berbagai gereja, Minggu (1/4/2012) menyisakan banyak cerita bermakna. Salah satunya tentang kelompok Koor SMUK Rex Mundi Manado.
GADIS itu bernama lengkap Chita Vithea Shella Moningkey. Dia merupakan Ketua OSIS SMU Rex Mundi. Suara merdunya berpadu indah dengan suara orang lain dalam paduan suara SMU Rex Mundi yang tampil memegahkan suasana liturgis misa kedua  Minggu Palma di Katedral Manado Minggu (1/4) pukul 08.30 Wita.

Melihat penampilannya yang mengagumkan terutama saat menyanyikan lagu latin Misa Ordinarium Jesus Maria Josep karya Joudy Aray, pasti orang mengira ia merupakan umat Katolik. Tapi siapa sangka ternyata Chita,  panggilan akrabnya merupakan jemaat GMIM Sion Ranowangko Tondano.  Gadis kelahiran Tondano 26 Mei 1996 ini tidak sendirian. Siswi kelas XI IPA IV bersama teman-temannya dari berbagai denominasi gereja  tampil apik menyemarakkan misa di Katedral. Bahkan ada yang beragama Islam. Remaja muslim itu bernama Roi Isa, warga lorong Martadinata 5, Paal Dua Manado.


Sebagai umat bergereja lain, Chita,  juara pertama  SMP Idol  2009 dan Juara 1 Sion Idol 2009 mengaku sangat menikmati perannya. "Ada perasaan tenang dan damai dalam hati saat menyanyi dalam kelompok koor bersama teman-teman, walaupun saya bukan Katolik," ujar putri pasangan Jeffrey Moningka dan Taliana Malonda itu.

Kakak Chayanne Moningkey dan Marchanda Moningkey ini juga menyadari kehadirannya dalam kegiatan seperti itu membuka pikirannya soal persaudaraan. Menurut pengemar warna merah ini,  Indonesia umumnya atau Manado pada khususnya harus menghilangkan gambaran  ada agama mayoritas atau agama minoritas. Mengubah  cara pandang itu, kata Chita,  harus dimulai dari  kegiatan- kegiatan yang merajut kebersamaan meski berbeda agama seperti yang dilakukan SMA Rex Mundi yaitu lewat kelompok koor.

Kelompok koor di sekolah itu berdiri sejak tahun 1990. Pelatih pertama pak Dahua kemudian dilanjutkan Stephen Tumewu sejak tahun 2009. "Saya bangga dengan koor sekolah yang sekarang dipimpin oleh suster Petra Sinaga, JMJ. Memang kelompok ini selama saya ikut tidak menjuarai lomba apapun. Tapi ini kelompok yang memersatukan. Seragam yang saya pakai ini juga bermakna persatuan karena kakak kelas yang mewariskan seragam ini. Saya tidak tahu agamanya apa," ujar alumni SD Negeri 6 Tondano yang bercita-cita jadi dokter itu.

Chita yang pernah menyandang predikat siswa teladan SD se-Kabupaten Minahasa tidak ambil pusing dengan status agama teman-temannya saat latihan. Wakil Sekertaris Sanggar Seni Jemaat Sion Ranowangko ini baru mengetahui bahwa peserta  yang tampil rata-ratanya bukan Katolik ketika mereka sudah selesai tampil dalam perayaan misa.

"Saya fokus pada latihan untuk tampil baik saat perayaan. Saya tidak memersoalkan nama gereja atau agama teman-teman saya. Saya pikir kesatuan sebuah bangsa itu dicerminkan oleh kelompok koor kami. Kelompok koor kami sebuah pelajaran kecil tentang arti kesatuan. Kami mampu memersatukan perbedaan menjadi sebuah kesatuan yang harmonis dan kesatuan itu tujuannya untuk memuji Tuhan yang sama. Sekarang tergantung masing-masing pribadi," tandasnya.

Sementara itu, koor juga memersatukan kelompok koor Keuskupan Manado yang sebenarnya saling bersaing dalam setiap lomba. Biasanya dalam lomba Muda Mudi Katolik (Mudika) tingkat keuskupan,  hampir semua paroki di Kevikepan Tomohon, Kevikepan Manado bahkan paroki di luar kedua kevikepan itu seperti paroki Santa Ursula Watutumou bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik.
Kemarin Mudika beberapa paroki justru bergabung dalam satu kelompok koor. "Saya senang karena ini tempat kami bisa bertemu dan bersatu. Kami bisa bertemu teman-teman dari paroki lain yang memiliki talenta dalam menyanyi," kata Claudia Ranti (16), peserta koor dari paroki Santo Josep Pelindung Pekerja Manado.

Pendapat senada dikatakan Kenny Korengkeng (16), siswi kelas XI,  peserta koor dari Paroki Santo Petrus Langowan. "Saya senang bisa kenal banyak orang dan menjalin kebersamaan,"ujar Kenny.  Nikita Tambayong (16), siswi kelas XI peserta koor dari Paroki Hati Tersuci Katedral Manado mengaku senang bisa menyanyi dalam kebersamaan. "Koor ini menyatukan perbedaan," katanya. (david manewus)

Tribun Manado 2 April 2012 halaman 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...