* Tidak Takut Dipanggil Dinkes
MANADO, TRIBUN - Manajer Keperasi Serba Usaha (KSU) Cipta Setia Stefanus Timah akhirnya menepati janjinya. Kepada Tribun Manado, ia bersedia menunjukkan lokasi incinerator milik koperasi tersebut di Paniki Bawah.
Dengan diantar Agus, pegawainya, Tribun menuju ke lokasi, Minggu (25/3)/2012 sekitar pukul 10.00 Wita. Incinerator tersebut berada di perkebunan wilayah Lingkungan IV Paniki Bawah. Jarak dari Jl A.A Maramis, kilometer 8 hingga ke lokasi sekitar dua kilometer. Sebelum masuk perkebunan itu terdapat perumahan Wale Nusantara.
Incinerator itu berada di dalam suatu area yang digembok. Begitu pintu gembok dibuka tampak bilik berukuran empat kali enam meter. Bilik itu berwarna putih dengan cerobong asap melekat di sisinya. Di dalamnya terlihat alat berbentuk segi empat. "Inilah incinerator itu," kata Agus.
Menurut Agus, alat untuk membakar sampah medis itu masih berfungsi dengan baik. Pembakaran biasa dilakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu. Lama pembakaran berkisar 1 hingga 2 jam. Agus mengatakan, dengan bobot kapasitas hingga 1,5 kubik, incinerator milik Koperasi Cipta Setia dapat membakar banyak sampah medis.
"Apalagi sampah medis di rumah sakit Sitti Maryam sedikit jumlahnya," ujarnya.
Agus menampik kemungkinan dirinya lalai hingga membuang sampah medis di Tempat Pengelolaan Sampat Terpadu (TPST) Sumompo. Sebagai anak buah, Agus mengaku menaati perintah atasannya Stefanus Tima. "Apalagi atasan saya juga memberi pengetahuan tentang bahaya sampah medis," tuturnya.
Mengenai incinerator serupa di wilayah Mokupa, Agus mengetahui tempat itu. Hanya menurut dia alat itu jarang digunakan. "Jalan di sana rusak hingga menyulitkan pembuangan," ungkapnya.
Stefanus Timah ketika ditemui kemarin tetap berpegang pada keyakinannya semula. "Saya yakin anak buah saya tidak membuang sampah sembarangan," katanya. Timah yakin karena ia melakukan pengawasan ketat terhadap para pekerjanya. "Lagipula kita memiliki incinerator. Jadi tidak mungkin kita berbuat bodoh. Tidak pernah mobil boks kami membuang sampah di Sumompo," tuturnya.
Stefanus Timah mengatakan, koperasi yang dikelolanya adalah satu-satunya yang mendapat rekomendasi dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Manado untuk pengolahan sampah medis. Dia memegang surat rekomendasi itu sehingga ia tidak takut, termasuk bila dipanggil Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manado untuk klarifikasi. "Sejauh ini saya sudah menyerahkan surat rekomendasi tersebut," katanya. Mengenai kerja sama dengan rumah sakit lain di Manado selain RSI Sitti Maryam, Timah mengaku pernah menjalin kerja sama dengan RS Permata Bunda untuk menangani sampah biasa. "Sekarang sudah tidak lagi," demikian Timah. (art)
Tribun Manado 26 Maret 2012 hal 1