* Mamoto: BNN Akan Sidak ke Manado
MANADO, TRIBUN- "Agak memprihatinkan isu pokok kejadian ini sebenarnya pemberantasan narkoba. Tetapi yang dihadirkan ialah isu Denny Indrayana. Ini menguntungkan para bandar narkoba karema mereka terkesan bebas dari pemberitaan."
Demikian Direktur Penindakan dan Pengejaran Badan Narkotika Nasional (BNN) Benny Mamoto kepada Tribun Manado di sela-sela acara penganugerahaan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuknya sebagai pemrakarsa Pawai Salib Terbanyak di wilayah kalawat I GMIM Manado, Sabtu (7/4/2012) sore.
Pernyataan Benny itu terkait kasus dugaan pemukulan terhadap sipir di Lapas Pekanbaru oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Benny Mamoto prihatin dengan bergesernya isu pokok kasus itu. Menurutnya, isu pokok yang seharusnya diangkat media massa adalah pemberantasan narkoba. Kondisi sekarang justru sebaliknya, media memblow-up dugaan kasus pemukulan sipir oleh Denny sehingga menguntungkan para bandar narkoba.
Benny Mamoto menceritakan kasus itu berawal dari rencana BNN mengadakan penyidikan dan penindakan di Lapas Pekanbaru. Mereka mau mengambil beberapa napi, dua orang sipir dan barang bukti. Barang bukti berupa alat komunikasi (hp) yang biasa dipakai napi membangun jaringan narkoba dari lapas, alat penghisap ganja (bong) dan alat bukti lain.
Ia mengatakan untuk mendapatkan semua itu di Lapas Pekanbaru diperlukan kecepatan dan kerahasiaan. Menurutnya, kasus yang dialami Denny Indrayana terjadi karena sipir penjara di Pekanbaru terkesan mengabaikan asas itu. "Mereka memperlambat terbukanya pintu. Itu kan jadi alasan mereka untuk menghilangkan barang bukti," tandas Mamoto.
Ia mengatakan, BBN telah memiliki bukti dari seorang napi di Lapas Pekanbaru tentang sikap sipir. Napi itu mengatakan ketika tim datang BNN datang bersama Denny Indrayana, seorang sipir Lapas Pekanbaru berteriak agar semua napi menyimpan handphone (hp). Hal itu memperkuat dugaan ada kolusi antara sipir dengan para napi. "Kalau terbukti ada kolusi mereka akan ditindak,"ujarnya.
Ia berharap agar Dirjen Lembaga Pemasyarakatan bisa bekerja sama dengan BNN dalam memberantas narkoba. "Ini demi anak cucu kita. Kalau membiarkan narkoba di lapas itu akan merusak anak-anak di sana. Kasus anaknya kepala bagian narkoba di Nusa Kambangan menjadi contoh,"ujar Mamoto.
Ia mengingatkan, ketergantungan akan narkoba bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, BNN tidak akan berhenti memberantas narkoba termasuk rencana inspeksi mendadak (sidak) ke Lapas Manado. "Rano Karno mengaku kecolongan dengan kasus narkoba anaknya. Ia telah berusaha mengawasi tetapi anaknya tetap terjerumus. Kami akan inspeksi ke Lapas Manado tetapi kan seperti yang saya bilang tadi, ada asas kecepatan dan kerahasian," tandasnya sambil tersenyum. (dma)
Tribun Manado 8 April 2012 hal 1