* Lahan Kemangi di Manado 15 Ha
MANADO, TRIBUN - Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan (Dispertanak) Kota Manado Ricky Poli mengatakan saat ini luas lahan yang ditanami kemangi di Manado sekitar 15 hektare. Usaha kemangi merupakan bagian dari program pemanfaatan pekarangan dengan menanam hortikultura.
"Holtikultura yang ditanam selain kemangi adalah tomat dan cabe," ujar Poli saat ditemui di kantornya, Senin (2/4). Poli juga menambahkan pemerintah siap memberikan bantuan modal dan pupuk bagi petani yang menanam hortikultura.
Dijelaskannya, sentral penghasil kemangi di Manado antara lain di daerah Manungkas, Maumbi, Paniki, Pandu dan Lapangan. Selain untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Manado, kemangi dari daerah tersebut juga dipasarkan hingga ke Bitung. "Memang pertanian hortikultura jika dimanfaatkan dengan baik, sangat menjanjikan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat," kata Poli.
Poli menyatakan, meskipun luas lahan pertanian di Kota Manado paling kecil dibandingan dengan kota dan kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), namun jika dimanfaatkan dengan baik hasilnya sangat menguntungkan secara ekonomis. Sukses petani kemangi asal Paniki, Robby Rorong dan istrinya Rosmiati merupakan salah satu contoh.
Untuk meningkatkan hasil pertanian, lanjut Poli, pemerintah melalui dinas yang dia pimpin membantu modal yang jumlahnya bervariasi bagi setiap kelompok tani yaitu antara Rp 95 juta-105 juta tergantung proposal yang diajukan. Bantuan tersebut berasal dari Kementerian Pertanian RI.
Bantuan lain bagi petani berupa pupuk organik cair sebanyak 100 botol yang dapat digunakan untuk lahan seluas 100 hektare 100 ton pupuk organik padat. Pupuk yang juga bantuan pemerintah pusat ini, kata Poli, sebagian besar telah disalurkan kepada petani di Manado.
Dia menjelaskan, jika petani menginginkan bantuan pupuk, cukup mengajukan permohonan kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Manado. Jumlah bantuan akan disesuaikan dengan ketersediaan stok. Diakui, bantuan pupuk dari pemerintah jumlahnya terbatas.
Untuk menambah pengetahuan para petani, pihaknya telah mengirim petani untuk mengikuti pelatihan di Makassar dan Surabaya. "Ada sekitar 50 kelompok yang telah kami kirim mengikuti pelatihan secara bertahap. Pada bulan ini saja lima petani kami kirim untuk mengikuti pelatihan di Makassar," katanya.
Seperti diwartakan sebelumnya, kemangi (acimum camum) yang biasa dimanfaatkan untuk lalapan, pepes, woku blanga maupun campuran masakan lainnya kerap dianggap remeh. Tidak banyak petani yang khusus menanam kemangi sebagai usaha produktif.
Hal tersebut berbeda dengan Robby Rorong dan istrinya Rosmiati, warga Kelurahan Paniki II Kecamatan Mapanget, Manado. Kemangi atau di Sulut dikenal sebagai balakama adalah sumber kehidupan bagi keluarga Robby.
Nama Robby-Ros sangat terkenal di kalangan pedagang di seluruh pasar Kota Manado. Kemangi hasil usaha mantan karyawan swasta ini memiliki kualitas yang baik sehingga tidak pernah mengecewakan pelanggan.
Berkat kegigihannya berusaha sejak lima tahun lalu, Robby Ros kini mampu mengirimkan kemangi ke pasar setiap hari hingga 50 kantong besar dengan keuntungan bersih per hari rata-rata Rp 1 juta. "Untungnya lumayan. Saya dapat membeli rumah , membeli kendaraan (mobil) dan menyekolahkan anak di Unima," katanya. (erv)
Tribun Manado 4 April 2012 hal 1