Senin, 23 April 2012

Duo Korea Adu Jotos di PBB

* Korut Pertanyakan Laporan Marzuki Darusman

JENEWA, TRIBUN  -  Permusuhan abadi duo  Korea memanas lagi bahkan dalam sidang resmi PBB. Diplomat Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel)  terlibat adu jotos pada pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss.

Sebelum terlibat duel fisik, kedua pihak adu argumen soal status pembelot Korut yang melarikan diri ke China atau Korsel. Seperti diberitakan Telegraph, Selasa 13 Maret 2012, insiden ini dimulai saat delegasi Korut,  So Se-pyong, membantah laporan PBB soal buruknya catatan HAM di negaranya. Dia mengatakan, "Menolak interpretasi tidak berdasar tersebut, yang dibuat-buat oleh musuh negara."

Dia juga mempertanyakan laporan staf HAM PBB, Marzuki Darusman, soal pelanggaran HAM  di Korut. Dalam laporan staf HAM asal Indonesia  tersebut, dikatakan bahwa antara September 2011 dan Januari 2012, hak-hak warga sipil Korut semakin tergerus.

Saat So mengajukan protes, empat delegasi Korsel yang dipimpin Kim Hyung-oh, meneriakkan kata-kata, "Jangan tekan pembelot" dan "Jangan minta China repatriasi pembelot." Demikian seperti dikutip dari laman Yonhap.

So memilih hengkang dari ruang rapat, kedua pihak lalu terlibat bentrok. Dalam rekaman, beberapa tinju sempat melayang, sebelum akhirnya dipisahkan petugas keamanan. Akibat peristiwa ini, rapat Dewan HAM PBB yang diikuti 500 delegasi sempat tertunda beberapa menit.

Dalam aksi demonstrasi di Kedubes China di Seoul, Senin (12/3), para demonstran mendesak Beijing tidak memulangkan pembelot Korut. Sejumlah aktivis HAM,  termasuk legislator Korea Selatan Park Jin, ingin Beijing memperlakukan para pembelot sebagai pengungsi, suatu langkah yang akan melindungi warga Korea Utara itu dari ancaman pemulangan paksa.

Aktivis Korea Selatan Do Hee-yun menuduh China memaksa pulang 31 pengungsi Korut yang telah menyeberang masuk ke China. Do, yang memimpin koalisi hak asasi berbasis di Seoul, mengatakan kepada kantor berita Perancis bahwa para pencari suaka diam-diam dipulangkanke Korut dalam dua pekan ini. Ia mengatakan mereka kemungkinan menghadapi hukuman keras karena melarikan diri semasa periode berkabung bagi mendiang pemimpin Korea Utara Kim Jong Il baru.

Lebih dari 21.700 warga Korut telah melarikan diri ke Korea Selatan sejak perang di semenanjung Korea tahun  1950-1953, sebagian besar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka biasanya melarikan diri dengan berjalan kaki ke China, bersembunyi dan kemudian melakukan perjalanan ke negara ketiga untuk mencari pemukiman di Korea Selatan. Selain Korsel, warga Korut juga memilih Jepang, Filipina dan Rusia sebagai tempat tujuan. Oleh pemerintahan Kim Jong-il kala itu, para pembelot dianggap pengkhianat. Berkat kedekatan antara Korut dan China, beberapa pembelot berhasil direpatriasi. Jika sudah kembali ke negaranya, mereka akan menjalani hukuman penjara atau bahkan dihukum mati. (afp/ant/vvn)

Tribun Manado 15 Maret 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...