Rabu, 25 April 2012

Stephanny Bergmann: Jaga Hak Paten Cap Tikus

SETIAP daerah di negeri ini  punya ciri khas seperti pakaian, makanan maupun minuman. Nah, jika di Bali ada tuak maka di Sulawesi Utara (Sulut) ada minuman khas tradisional yaitu cap tikus. Baunya memang khas menyengat hidung tapi diteguk setengah gelas bisa melegakan tenggorokan atau menghangatkan tubuh yang kedinginan.  Bagi Stephanny Bergmann minuman khas Sulut itu harus dilestarikan mengingat brand cap tikus sudah dikenal luas publik Indonesia.

"Tentu saja kalau minum secara berlebihan,  namanya miras (minuman keras) akan menyebabkan mabuk. Tapi pada dasarnya minuman beralkohol bukan persoalan utamanya tetapi pengendalian diri seseorang saja," ungkap gadis kelahiran Kota Bitung, 7 September 1993.
Stephanny tidak alergi mendengar kata cap tikus. Menurutnya, minuman tradisional hasil olahan tangan para petani aren  ini unik sehingga patut dipertahankan hak patennya. "Jangan sampai  cap tikus karena dilarang produksi,  tiba-tiba sudah menjadi minuman khas negara tetangga. Hak paten harus dijaga walaupun pemerintah meminimalisir produksi minuman ini," kata mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini.

Bukan masalah,  kata Stephanny,  bila aparat kepolisian mengamankan mereka yang mabuk dan berbuat onar gara-gara menenggak cap tikus secara berlebihan. Namun, mengamankan minuman cap tikus dalam perdagangan bukan solusi yang tempat. Ada banyak alasan, kata penyuka bubur Manado ini. "Minuman ini khas Sulut, kebanggaan orang Sulut karena memang ada petani khusus cap tikus yang bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi dari hasil penjualan minuman ini," kata gadis yang menyabet gelar Puteri Indonesia Persahabatan  2011 dan Puteri Indonesia Berbakat Sulut 2011 ini.

Menurut Stephanny pemerintah harus mengambil langkah solutif dan  bukan mematikan produksi cap tikus di tingkat petani aren yang jumlahnya sangat banyak di berbagai daerah di Sulut.

"Saya setuju jika cap tikus dilebelkan sama dengan minuman-minuman yang berkelas lainnya. Kalau selama ini cap tikus hanya dikemas dalam galon (jeriken) rasanya tidak salah jika pemerintah mencari investor agar cap tikus bisa diproduksi dalam botol-botol dengan lebel seperti minuman-minuman beralkohol yang dijual resmi  di toko-toko," tutur gadis yang bisa tarian Cakalele ini.(yudith rondonuwu)

Tribun Manado 26 Maret 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...